Manajemen Stok Barang UKM: Pencatatan, Pembelian, Transfer Gudang & Stock Opname
Panduan manajemen stok barang untuk UKM: data induk barang, alur pembelian, transfer antargudang, FIFO vs rata-rata, reorder point, hingga stock opname, lengkap dengan contoh angka dan jurnal pembukuannya.
Oleh Tim Solvy · Tim produk & implementasi Solvy
Manajemen stok barang adalah cara mengatur barang sejak dibeli, disimpan, dipindahkan, dan dijual, sampai dihitung ulang di gudang. Tujuannya dua: jumlah di catatan sama dengan jumlah fisik, dan nilai stok di laporan keuangan benar. Kuncinya, setiap pergerakan barang dicatat lewat dokumen pada saat terjadi, bukan diketik ulang di akhir bulan.
Banyak panduan membahas sisi gudang saja: rak, kode barang, dan stok cadangan. Padahal setiap langkah gudang juga mengubah angka di pembukuan, yaitu nilai persediaan, harga pokok penjualan (HPP), dan laba. Panduan ini menghubungkan keduanya, lengkap dengan contoh angka dalam Rupiah dan jurnalnya.
Manajemen stok barang: urusan jumlah sekaligus nilai
Pertanyaan pertama pemilik usaha biasanya soal jumlah: barangnya ada berapa, dan di mana? Pertanyaan kedua datang saat menyusun laporan: stok senilai berapa, dan berapa HPP bulan ini? Bagi usaha dagang, persediaan sering menjadi aset lancar yang besar. Selisih kecil di gudang bisa membuat laba bulanan meleset.
Tabel berikut merangkum kegiatan gudang yang umum, dokumennya, dan efeknya di pembukuan (sistem perpetual).
| Kegiatan | Dokumen | Efek pada jumlah stok | Efek di pembukuan |
|---|---|---|---|
| Pembelian dan penerimaan barang | Order pembelian (PO), bukti terima, tagihan pemasok | Bertambah | Persediaan (debit), utang usaha (kredit) |
| Retur pembelian | Nota retur | Berkurang | Utang usaha (debit), persediaan (kredit) |
| Penjualan dan pengiriman | Sales order, surat jalan, faktur | Berkurang | Piutang dan penjualan; HPP (debit), persediaan (kredit) |
| Retur penjualan (barang layak jual) | Nota retur | Bertambah | Retur penjualan; persediaan (debit), HPP (kredit) |
| Transfer antargudang | Dokumen kirim dan terima | Pindah lokasi, total tetap | Tidak ada laba; bila akun per gudang dipisah, pindah antarakun persediaan |
| Pemakaian bahan untuk produksi | Order produksi | Bahan baku berkurang, barang jadi bertambah | Bahan baku ke barang dalam proses, lalu ke barang jadi |
| Selisih stock opname | Berita acara opname | Disesuaikan ke jumlah fisik | Beban atau pendapatan selisih persediaan |
| Barang rusak atau kedaluwarsa | Berita acara pemusnahan | Berkurang | Beban kerugian persediaan |
Ada dua cara mencatat persediaan. Pada sistem perpetual, stok dan HPP diperbarui setiap kali barang masuk atau keluar. Pada sistem periodik, stok baru diketahui setelah hitung fisik, dan HPP dihitung dengan rumus persediaan awal + pembelian − persediaan akhir. Sistem periodik masih bisa dipakai untuk usaha sangat kecil. Namun begitu barang dan transaksinya banyak, sistem perpetual jauh lebih bisa diandalkan, karena selisih langsung terlihat dan penyebabnya bisa ditelusuri.
Langkah awal: rapikan data induk barang
Stok yang kacau biasanya berawal dari data induk yang tidak rapi. Sebelum memakai sistem apa pun, siapkan hal berikut:
- Kode barang (SKU) yang unik. Satu barang, satu kode. Tetapkan aturan penamaan, misalnya
DTJ-800Guntuk deterjen bubuk kemasan 800 gram, agar tidak muncul barang yang sama dengan dua nama. - Satuan dan konversinya. Tentukan satuan beli dan satuan jual, misalnya beli per dus dan jual per bungkus (1 dus = 12 bungkus). Konversi yang salah adalah sumber selisih yang sangat umum.
- Kategori dan akun persediaan. Pisahkan barang dagang, bahan baku, barang jadi, dan kemasan. Bila perlu, setiap kategori memakai akun persediaan sendiri di bagan akun.
- Lokasi. Daftarkan gudang, outlet, dan bila perlu rak atau zona di dalamnya.
- Pelacakan lot atau nomor seri. Pakai nomor lot untuk barang yang punya tanggal kedaluwarsa (makanan, kosmetik, obat). Pakai nomor seri untuk barang yang dilacak per unit, misalnya elektronik yang perlu ditelusuri saat klaim servis.
- Stok minimum. Isi batas minimum untuk barang yang laku rutin (cara menghitungnya ada di bagian reorder point di bawah).
- Saldo awal. Pada tanggal mulai, hitung fisik semua barang dan catat harga perolehannya. Saldo awal yang asal-asalan akan terbawa ke semua laporan sesudahnya.
Alur pembelian: dari PO sampai barang masuk gudang
Alur pembelian yang tertib memastikan barang yang dibayar memang barang yang dipesan dan diterima.
- Permintaan pembelian. Muncul dari stok yang menyentuh batas minimum atau dari pesanan pelanggan.
- Order pembelian (PO). Berisi barang, jumlah, harga, dan termin pembayaran yang disepakati dengan pemasok.
- Penerimaan barang. Petugas gudang mencocokkan barang dengan PO dan surat jalan, lalu memeriksa jumlah serta kondisinya. Barang rusak dipisahkan dan dicatat untuk retur.
- Tagihan pemasok. Dicocokkan dengan PO dan bukti terima. Pencocokan tiga dokumen ini (three-way matching) mencegah Anda membayar barang yang tidak pernah datang.
- Pembayaran. Dilakukan sesuai jatuh tempo.
Yang sering terlupa adalah harga perolehan. Harga perolehan persediaan mencakup harga beli ditambah biaya untuk membawa barang sampai ke gudang, misalnya ongkos angkut pembelian. Diskon pembelian mengurangi harga perolehan. PPN masukan yang dapat dikreditkan oleh PKP dicatat terpisah, bukan sebagai bagian persediaan. Bila usaha Anda belum PKP, PPN yang dibayar tidak bisa dikreditkan sehingga menambah harga perolehan.
Contoh (angka ilustrasi). Toko grosir yang sudah PKP membeli 200 dus deterjen @ Rp180.000 = Rp36.000.000. Untuk barang non-mewah, PPN dihitung 12% dari DPP Nilai Lain sebesar 11/12 harga jual, sehingga beban efektifnya 11% (PMK 131/2024): 11/12 × Rp36.000.000 = Rp33.000.000, dan PPN = 12% × Rp33.000.000 = Rp3.960.000. Ongkos angkut ke gudang Rp1.200.000 dibayar tunai ke ekspedisi.
Harga perolehan = Rp36.000.000 + Rp1.200.000 = Rp37.200.000, atau Rp186.000 per dus.
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Persediaan barang dagang | 37.200.000 | |
| PPN masukan | 3.960.000 | |
| Utang usaha (pemasok) | 39.960.000 | |
| Kas | 1.200.000 |
Contoh ini disederhanakan. Pajak atas jasa ekspedisi tidak dibahas di sini.
Penyimpanan dan transfer antargudang
Penataan gudang menentukan seberapa cepat barang ditemukan dan seberapa kecil risiko rusak. Prinsip yang praktis:
- Lokasi tetap untuk barang cepat laku, dekat area pengiriman.
- Barang lama keluar lebih dulu. Untuk barang yang punya tanggal kedaluwarsa, pakai prinsip FEFO (first expired, first out): yang kedaluwarsa lebih dulu dikirim lebih dulu.
- Area karantina untuk barang rusak, retur, atau yang menunggu pemeriksaan, agar tidak ikut terjual.
Perlu dicatat, urutan fisik barang di rak (FIFO atau FEFO) berbeda dengan metode penilaian di pembukuan. Urutan fisik adalah keputusan operasional. Metode penilaian adalah kebijakan akuntansi yang dibahas di bagian berikutnya.
Saat usaha punya lebih dari satu gudang atau outlet, transfer stok sebaiknya dicatat dalam dua langkah:
- Kirim. Stok gudang asal berkurang dan barang berstatus dalam perjalanan.
- Terima. Gudang tujuan menghitung dan mengonfirmasi, lalu stoknya bertambah.
Dengan dua langkah, barang yang hilang atau kurang di jalan langsung terlihat. Misalnya dikirim 50 dus tetapi yang diterima 48 dus. Selisih 2 dus diselidiki dan dibuatkan berita acara, bukan diam-diam dihapus.
Dari sisi akuntansi, transfer di dalam satu perusahaan bukan penjualan. Tidak ada pendapatan dan tidak ada laba, dan total nilai persediaan tetap. Bila akun persediaan dipisah per gudang, transfer 50 dus @ Rp186.000 dicatat Persediaan Cabang (debit) Rp9.300.000, Persediaan Pusat (kredit) Rp9.300.000. Berbeda halnya bila gudang tujuan milik badan usaha lain, meski pemiliknya sama. Perpindahan itu adalah penjualan antarperusahaan yang memerlukan faktur, dan bagi PKP juga faktur pajak.
Ongkos angkut antargudang bisa dibebankan atau ditambahkan ke harga pokok barang. Tentukan kebijakannya bersama akuntan, lalu terapkan secara konsisten.
Penjualan, pengiriman, dan HPP
Pada sistem perpetual, saat barang dikirim ke pelanggan terjadi dua hal sekaligus: pendapatan diakui, dan harga pokok barang itu dipindahkan dari persediaan ke HPP.
Lanjutan contoh. Toko menjual 120 dus @ Rp215.000 = Rp25.800.000 kepada pelanggan. PPN keluaran = 12% × (11/12 × Rp25.800.000) = 12% × Rp23.650.000 = Rp2.838.000.
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Piutang usaha | 28.638.000 | |
| Penjualan | 25.800.000 | |
| PPN keluaran | 2.838.000 | |
| HPP | 21.720.000 | |
| Persediaan barang dagang | 21.720.000 |
Angka HPP Rp21.720.000 berasal dari metode FIFO, yang dijelaskan di bagian berikut. Alur penagihannya, dari faktur sampai piutang lunas, dibahas di panduan invoice dan penagihan.
Untuk retur penjualan, periksa dulu kondisi barangnya. Barang yang layak jual dikembalikan ke stok dan HPP-nya dibalik. Barang rusak masuk area karantina sampai diputuskan diretur ke pemasok atau dimusnahkan.
FIFO atau rata-rata: metode penilaian persediaan
Harga beli jarang sama dari waktu ke waktu, jadi Anda perlu aturan untuk menentukan harga pokok barang yang keluar. Dua metode yang umum dipakai UKM:
- FIFO (first in, first out): barang yang dibeli lebih dulu dianggap keluar lebih dulu.
- Rata-rata tertimbang: harga pokok per unit dihitung ulang setiap ada pembelian, yaitu total nilai dibagi total unit.
Contoh. Saldo awal 100 dus @ Rp180.000 (Rp18.000.000). Lalu dibeli 200 dus @ Rp186.000 (Rp37.200.000). Total 300 dus senilai Rp55.200.000. Kemudian terjual 120 dus.
| Keterangan | FIFO | Rata-rata tertimbang |
|---|---|---|
| Harga pokok per dus yang keluar | 100 × Rp180.000 + 20 × Rp186.000 | Rp55.200.000 ÷ 300 = Rp184.000 |
| HPP 120 dus | Rp21.720.000 | Rp22.080.000 |
| Sisa persediaan 180 dus | Rp33.480.000 | Rp33.120.000 |
| Laba kotor (penjualan Rp25.800.000) | Rp4.080.000 | Rp3.720.000 |
Saat harga beli naik, FIFO menghasilkan HPP lebih rendah dan laba kotor lebih tinggi. Metode rata-rata meratakan kenaikan harga itu. Total nilainya tetap sama (Rp55.200.000). Yang berbeda hanya pembagiannya antara HPP dan sisa persediaan.
Untuk pajak, Pasal 10 ayat (6) UU PPh hanya membolehkan dua cara ini: rata-rata, atau mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama (FIFO). Metode LIFO tidak dapat dipakai untuk penghitungan pajak. Menurut penjelasan pasal yang sama, metode yang sudah dipilih harus dipakai secara konsisten pada tahun-tahun berikutnya. Mengubah metode memerlukan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, jadi bicarakan dengan konsultan pajak sebelum menggantinya. Di sisi standar akuntansi, persediaan diatur dalam PSAK 202 (dulu PSAK 14), yang penomorannya berubah sejak 1 Januari 2024.
Seberapa besar pengaruh HPP terhadap pajak bergantung pada skema PPh usaha Anda. Sejak PP 20/2026 (berlaku 22 April 2026), tarif PPh Final 0,5% dapat digunakan wajib pajak orang pribadi dan PT Perorangan dengan omzet hingga Rp4,8 miliar per tahun tanpa batas waktu. CV, firma, dan PT yang baru terdaftar tidak lagi dapat memakainya. Pada PPh final, pajak dihitung dari omzet, sehingga HPP tidak mengubah besar pajaknya, tetapi tetap penting untuk mengetahui untung atau rugi. Pada tarif umum PPh badan, HPP menjadi pengurang penghasilan, sehingga ketepatan nilai persediaan langsung memengaruhi pajak. Rinciannya ada di panduan pajak UMKM 2026 dan dampak PP 20/2026 bagi CV dan PT.
Stok minimum dan reorder point: kapan membeli lagi
Kehabisan barang membuat penjualan hilang. Stok berlebih membuat uang mengendap di gudang. Reorder point (titik pemesanan ulang) membantu menentukan kapan harus memesan.
Rumus sederhana: reorder point = rata-rata pemakaian harian × waktu tunggu pemasok (lead time) + stok pengaman (safety stock).
Contoh. Deterjen tadi terjual rata-rata 8 dus per hari. Pemasok butuh 5 hari sejak PO dikirim sampai barang tiba. Untuk berjaga-jaga, Anda menyimpan stok pengaman setara 3 hari penjualan.
- Kebutuhan selama menunggu: 8 × 5 = 40 dus
- Stok pengaman: 8 × 3 = 24 dus
- Reorder point: 40 + 24 = 64 dus
Begitu stok menyentuh 64 dus, buat PO. Angka ini perlu ditinjau ulang setiap beberapa bulan, terutama menjelang musim ramai seperti Ramadan atau akhir tahun.
Tidak semua barang perlu diawasi seketat ini. Dengan analisis ABC, barang dikelompokkan menurut nilai pemakaiannya. Kelompok A adalah sedikit barang yang menyerap sebagian besar nilai pembelian. Kelompok ini layak diawasi paling ketat dan dihitung paling sering. Kelompok C adalah banyak barang bernilai kecil yang cukup diawasi dengan aturan sederhana.
Pantau juga beberapa angka berikut setiap bulan:
| Indikator | Cara menghitung | Contoh |
|---|---|---|
| Perputaran persediaan | HPP setahun ÷ rata-rata nilai persediaan | Rp600 juta ÷ Rp100 juta = 6 kali |
| Hari persediaan | 365 ÷ perputaran persediaan | 365 ÷ 6 ≈ 61 hari |
| Stok tidak bergerak | Barang tanpa penjualan dalam periode tertentu, misalnya 90 hari | Daftar untuk promosi, retur, atau penghapusan |
Stock opname: menghitung fisik dan mencatat selisih
Seberapa rapi pun pencatatannya, hitung fisik tetap perlu. Stock opname memastikan catatan sesuai kenyataan, dan sebaiknya dilakukan minimal sekali di akhir tahun buku sebelum tutup buku. Banyak usaha juga menjalankan hitung bergilir (cycle count): barang kelompok A dihitung setiap bulan, kelompok B setiap kuartal, dan kelompok C setiap semester.
Langkah stock opname yang tertib:
- Tetapkan tanggal dan jam cut-off. Hentikan sementara penerimaan dan pengiriman, atau tandai dokumen yang terjadi setelah cut-off.
- Selesaikan dokumen tertunda. Penerimaan, retur, dan transfer yang belum dicatat harus dibereskan dulu.
- Bentuk tim hitung. Sebaiknya penghitung bukan orang yang sehari-hari memegang catatan stok.
- Hitung tanpa melihat angka sistem (blind count), agar penghitung tidak tergoda menyesuaikan hasilnya.
- Bandingkan hasil hitung dengan sistem, lalu hitung ulang item yang selisihnya besar.
- Cari penyebab selisih: salah konversi satuan, retur yang belum dicatat, transfer yang belum diterima, barang salah kirim, atau barang hilang dan rusak.
- Buat berita acara yang ditandatangani penghitung dan penanggung jawab gudang.
- Catat penyesuaian setelah penyebabnya jelas dan disetujui.
Contoh. Setelah penjualan tadi, sistem mencatat 180 dus. Hasil hitung fisik 176 dus, jadi kurang 4 dus. Dengan FIFO, sisa stok bernilai Rp186.000 per dus, sehingga selisihnya 4 × Rp186.000 = Rp744.000.
| Akun | Debit | Kredit |
|---|---|---|
| Beban selisih persediaan | 744.000 | |
| Persediaan barang dagang | 744.000 |
Bila hasil fisik justru lebih banyak, periksa dulu apakah ada penerimaan atau retur yang belum dicatat. Bila tidak ada, selisih lebih dicatat Persediaan (debit) dan Pendapatan selisih persediaan (kredit).
Barang rusak atau kedaluwarsa dihapus dari persediaan dengan berita acara pemusnahan yang memuat jenis barang, jumlah, nilai, dan saksinya. Standar akuntansi (PSAK 202) juga meminta nilai persediaan diturunkan bila nilai realisasi netonya, yaitu perkiraan harga jual dikurangi biaya untuk menjualnya, lebih rendah dari harga pokok. Apakah kerugian persediaan ini boleh menjadi pengurang penghasilan untuk pajak bergantung pada jenis barang dan buktinya, jadi konfirmasikan ke konsultan pajak.
Produksi ringan: dari bahan baku ke barang jadi
Usaha konveksi, makanan olahan, atau perakitan punya lapisan tambahan: bahan baku berubah menjadi barang jadi. Di sini dibutuhkan bill of material (BoM), yaitu daftar komponen dan jumlahnya untuk satu unit produk jadi.
Contoh BoM kaos sablon (angka ilustrasi):
| Komponen | Pemakaian per kaos | Harga | Biaya |
|---|---|---|---|
| Kain katun | 0,6 meter | Rp45.000/meter | Rp27.000 |
| Tinta sablon | 1 desain | Rp6.000 | Rp6.000 |
| Label dan plastik kemasan | 1 set | Rp2.000 | Rp2.000 |
| Biaya bahan per kaos | Rp35.000 |
Untuk order 300 kaos, bahan senilai 300 × Rp35.000 = Rp10.500.000 keluar dari persediaan bahan baku. Bahan itu masuk ke barang dalam proses, lalu ke persediaan barang jadi setelah produksi selesai. Biaya tenaga kerja dan overhead ditambahkan untuk mendapatkan harga pokok produksi lengkap. Pola transaksi per industri, termasuk konveksi dan F&B, dirangkum di panduan keuangan per industri. Lihat juga kebutuhan khas manufaktur ringan.
Kesalahan umum dalam manajemen stok barang
- Stok diubah langsung tanpa dokumen. Angka jadi cocok, tetapi penyebab selisihnya hilang.
- Ongkos angkut pembelian dicatat sebagai beban, padahal bagian dari harga perolehan. Akibatnya HPP terlalu kecil dan laba terlihat lebih besar.
- Konversi satuan keliru, misalnya beli per dus tetapi dicatat per bungkus.
- Transfer antargudang dicatat satu langkah, sehingga barang yang tidak sampai tidak pernah ketahuan.
- Transfer ke perusahaan lain dalam satu grup dicatat sebagai transfer biasa, padahal itu penjualan.
- Retur pelanggan langsung dimasukkan ke stok layak jual tanpa pemeriksaan kondisi.
- Mengganti metode penilaian di tengah tahun tanpa kajian dan persetujuan yang diperlukan.
- Stock opname tanpa cut-off, sehingga barang yang sedang dikirim terhitung dua kali atau tidak terhitung sama sekali.
- Stok minimum tidak pernah ditinjau, padahal pola penjualan dan waktu tunggu pemasok berubah.
Bagaimana Solvy membantu
Solvy adalah software akuntansi dan ERP berbasis cloud untuk UKM Indonesia. Untuk manajemen stok, berikut yang tersedia:
- Persediaan (semua paket, satu gudang di paket Lite). Nomor lot dan nomor seri, aturan stok minimum, dan penilaian persediaan yang terhubung ke akuntansi. Lihat persediaan & stok.
- Penjualan dan pembelian (semua paket). Order penjualan, order pembelian, dan data kontak dalam satu sistem dengan faktur dan tagihan pemasok. Lihat penjualan & pembelian.
- Multi-gudang (mulai paket Advance). Sampai 5 gudang atau outlet di paket Advance, tanpa batas di paket Profesional. Lihat multi-gudang & outlet.
- Kasir dan pengiriman (mulai paket Advance). Kasir (POS) di browser atau tablet, serta pencatatan metode kirim, ongkos kirim, dan nomor resi. Lihat kasir dan pengiriman.
- Laporan keuangan (mulai paket Advance). Laba rugi dan neraca dengan perbandingan periode, plus ekspor ke Excel. Lihat laporan keuangan.
- Manufaktur (paket Profesional). BoM, order produksi, pusat kerja, dan biaya produk dari komponen yang dipakai. Lihat manufaktur.
- Pindah dari Excel. Impor data induk, termasuk daftar produk, dan saldo awal dikerjakan tim Solvy sebagai bagian dari onboarding.
Ada beberapa batasan. Solvy belum memiliki aplikasi pemindai barcode khusus maupun aplikasi mobile native; di HP, Solvy dipakai lewat browser. Solvy juga belum terintegrasi dengan marketplace seperti Tokopedia atau Shopee, sehingga stok yang dijual di sana perlu diperbarui terpisah. Persetujuan berjenjang untuk order pembelian juga belum tersedia. Untuk usaha dagang dengan beberapa cabang, lihat juga halaman retail & distribusi.
Ingin melihat alur stok ini di Solvy? Jadwalkan demo.
Informasi ini bersifat edukatif per 29 Oktober 2026. Untuk kondisi bisnis Anda, konsultasikan dengan konsultan pajak terdaftar.
Pertanyaan umum
Apa itu manajemen stok barang?
Manajemen stok barang adalah pengelolaan barang sejak dibeli, disimpan, dipindahkan, dan dijual, sampai dihitung ulang. Tujuannya menjaga jumlah di catatan sama dengan jumlah fisik, mencegah kehabisan atau kelebihan stok, dan memastikan nilai persediaan serta HPP di laporan keuangan benar.
Metode penilaian persediaan apa yang boleh dipakai untuk pajak?
Pasal 10 ayat (6) UU PPh hanya membolehkan metode rata-rata atau FIFO, sehingga LIFO tidak dapat dipakai. Metode yang dipilih harus dipakai secara konsisten, dan mengubahnya memerlukan persetujuan Direktur Jenderal Pajak.
Berapa kali stock opname sebaiknya dilakukan?
Sebaiknya minimal sekali di akhir tahun buku sebelum tutup buku. Banyak usaha menambahkan hitung bergilir: barang bernilai tinggi dihitung setiap bulan, sisanya setiap kuartal atau semester.
Bagaimana mencatat selisih kurang hasil stock opname?
Setelah penyebabnya diselidiki dan berita acara dibuat, selisih kurang dicatat di debit beban selisih persediaan dan di kredit persediaan, sebesar jumlah unit dikali harga pokoknya. Selisih lebih dicatat sebaliknya.
Apakah ongkos kirim pembelian masuk ke harga pokok persediaan?
Ya. Biaya untuk membawa barang sampai ke gudang, seperti ongkos angkut pembelian, menjadi bagian harga perolehan persediaan. Bila dicatat sebagai beban, HPP menjadi terlalu kecil dan laba tampak lebih besar.
Apakah transfer stok antargudang dicatat sebagai penjualan?
Tidak, bila kedua gudang milik perusahaan yang sama: hanya lokasinya yang berpindah dan total nilai persediaan tetap. Bila gudang tujuan milik badan usaha lain, perpindahan itu adalah penjualan yang memerlukan faktur.
Sumber
- UU 36/2008 tentang Pajak Penghasilan, Pasal 10 ayat (6) (BPK, status Berlaku) — https://peraturan.bpk.go.id/Details/39704/uu-no-36-tahun-2008
- DDTC — Metode FIFO dalam PPh: Penjelasan Pasal 10 ayat (6) UU PPh dan Penjelasan Pasal 28 ayat (6) UU KUP (21 Nov 2022) — https://news.ddtc.co.id/literasi/kamus/43616/terkait-dengan-pajak-penghasilan-apa-itu-metode-fifo
- PMK 131/2024 tentang tarif PPN (JDIH Kemenkeu, status Berlaku) — https://jdih.kemenkeu.go.id/dok/pmk-131-tahun-2024
- DJP — "PMK 131/2024: Tarif PPN Sebelas-Dua Belas" — https://www.pajak.go.id/en/node/113453
- PP 20/2026 tentang perubahan PP 55/2022 (BPK, status Berlaku) — https://peraturan.bpk.go.id/Details/349415/pp-no-20-tahun-2026
- DJP — "PP 20/2026: Tarif PPh 0,5% bagi UMKM Orang Pribadi Berlaku Selamanya" (3 Jun 2026) — https://www.pajak.go.id/en/node/119950
- IAI — Perubahan Penomoran PSAK dan ISAK dalam SAK Indonesia (PSAK 14 menjadi PSAK 202 Persediaan, efektif 1 Januari 2024) — https://web.iaiglobal.or.id/assets/files/file_publikasi/Perubahan_Penomoran_PSAK_ISAK_dalam_SAK_Indonesia.pdf
Rapikan faktur, pajak dan stok dalam satu sistem
Lihat bagaimana Solvy menangani alur ini untuk usaha Anda.